NYALE
jam menunjukkan pukul 08.30 Wita, tetapi panas begitu menyengat. Ribuan peserta ritual nyale dan pasola dari dalam dan luar negeri, yang berhamburan di tepi Pantai Madidi Nyale, pun berhamburan mencari perteduhan. Penduduk asli Sumba Barat menenteng ember dan kantong plastik berisi nyale, cacing laut, simbol rezeki hidup, keselamatan, dan kesejahteraan.
Sementara para rato, tetua adat, berkumpul di bawah kaki bukit Madidi Nyale, membawakan ritual kepada leluhur, sebelum pasola digelar di lapangan terbuka.
Wisatawan dari sejumlah negara hadir di Pantai Madidi Nyale, Kecamatan Wanokaka, yang berjarak tak kurang dari 25 kilometer (km) dari Waikabubak, ibu kota Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Mereka menyaksikan perburuan nyale, cacing laut, dan pasola atau perang tanding antara delapan suku di Wanokaka.
Sejumlah 24 pria dari delapan suku di daerah itu terbagi dalam dua kelompok, yakni suku Wanokaka atas sebanyak empat suku dengan jumlah anggota 12 pria. Suku di Wanokaka bawah, dengan jumlah anggota yang sama dengan suku dari Wanokaka atas.
Kepala Rato Wanokaka, Ngongo Detta, di Wanokaka, beberapa saat lalu, mengatakan, sebelum pasola digelar di lapangan terbuka berukuran 50 meter x 20 meter, tepatnya pukul 03.00 Wita, sebelum matahari terbit, delapan rato atau kepala suku dari delapan suku di Wanokaka berkumpul di bawah bukit Madidi Nyale. Di tengah kegelapan itu, mereka membawakan ritual, memanggil nyale.
Dua rato tertidur pulas di samping batu, yang diyakini sebagai raja. Jika ada mimpi aneh dari salah satu rato yang hadir, diceritakan seluruhnya, kemudian dibahas bersama, apakah mimpi itu pertanda sukses atau gagal dalam pelaksanaan pasola dan kehidupan masyarakat di masa depan. Pada pasola, 13 April yang lalu, Ngongo Detta bermimpi melihat sebuah padang rumput hijau. Mimpi itu pun diterjemahkan sebagai kesuburan dan kesuksesan akan dialami warga setempat.
Setiap suku membawa seekor ayam, ketupat, sirih pinang, dan dua tongkat (lembing), mewakili lembing pasola. Ayam itu pun didoakan oleh rato sebelum diserahkan kepada kepala rato. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, angka 2015, angka ganjil simbol keberanian. Adapun angka genap menjadi simbol kelemahlembutan.


Komentar
Posting Komentar