Postingan

NYALE

Gambar
                jam menunjukkan pukul 08.30 Wita, tetapi panas begitu menyengat. Ribuan peserta ritual nyale dan pasola dari dalam dan luar negeri, yang berhamburan di tepi Pantai Madidi Nyale, pun berhamburan mencari perteduhan. Penduduk asli Sumba Barat menenteng ember dan kantong plastik berisi nyale, cacing laut, simbol rezeki hidup, keselamatan, dan kesejahteraan. Sementara para rato, tetua adat, berkumpul di bawah kaki bukit Madidi Nyale, membawakan ritual kepada leluhur, sebelum pasola digelar di lapangan terbuka.              Wisatawan dari sejumlah negara hadir di Pantai Madidi Nyale, Kecamatan Wanokaka, yang berjarak tak kurang dari 25 kilometer (km) dari Waikabubak, ibu kota Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Mereka menyaksikan perburuan nyale, cacing laut, dan pasola atau perang tanding antara delapan suku di Wanokaka. Sejumlah 24 pria dari delapan suku di daerah itu terbagi dalam dua k...

RITUAL SAKRAL MARAPU

Gambar
              Marapu dapat diartikan sebagai keyakinan atas kemampuan arwah leluhur menghubungkan manusia dengan Sang Pencipta. Mayoritas masyarakat Sumba percaya bahwa leluhur yang telah meninggal dunia dapat berkomunikasi dengan Tuhan. Karena kesaktian yang dimilikinya, arwah leluhur menjadi perantara antara manusia dengan Tuhan. Penganut Marapu menyampaikan permohonannya terhadap Tuhan melalui arwah sang leluhur melalui upacara-upacara adat. Penganut Marapu umumnya hidup bersama di kampung adat. Keberadaan kampung adat Marapu dapat ditemukan dengan mudah di Pulau Sumba. Mereka umumnya ada di dataran rendah maupun bukit yang jauh dari pusat keramaian. Tempat tinggal           Di kampung adat, penganut Marapu tinggal di rumah panggung beratap ilalang dan beralas kayu. Ada dua jenis rumah di sana, yaitu rumah besar (uma kalada) dan rumah biasa (ana uma). Uma kalada merupakan rumah pertama yang dibangun leluhur di sebuah kampung...

TARIAN

Gambar
        Seni tari merupakan salah satu bentuk kesenian yang khas dari tiap-tiap suku di Indonesia. Semua jenis tari mencerminkan keagungan budaya dan nilai-nilai penting yang dijunjung sebagai karakter dari suku dan daerah masing-masing.          Di Sumba sendiri, terdapat ragam tarian dengan makna dan sejarah yang bervariasi. Dan setiap tarian adalah ekspresi atas pandangan masyarakat Sumba akan kehidupan, selain menjadi bentuk komunikasi dengan sesama, alam, maupun Sang Pencipta. Berikut ini adalah tarian Sumba seperti :  TARIAN KATAGA            Tari Kataga merupaka sebuah tarian perang yang cikal bakalnya sudah ada sejak zaman dahulu. Pada masa itu, Anakalang (Sumba di masa itu) merupakan tempat yang sering menjadi medan perang antarmarga. Dan salah satu tradisi disana untuk merayakan kemenangan adalah dengan membawa kepala musuh untuk digantung di uma adung. Dan disaat perayaan itu, para prajurit akan m...

TRADISI PAHILLIR

Gambar
           Tradisi ini merupakan larangan keras yang tidak memperbolehkan  "anak mantu perempuan dan ayah mertuanya atau anak mantu laki-laki dan ibu mertuanya"    atau "istri ipar dan anak mantu laki-laki"  berkomunikasi apalagi bersentuhan secara langsung, bahkan barang-barang milik masing-masing pun tidak boleh disentuh.             Bagi Orang Sumba hal tersebut adalah  "tabu"  dan tidak pantas dilakukan, sehingga ketika mereka bertemu, maka mereka harus "menghindar" atau dalam Bahasa Sumba Timur dikenal dengan istilah  pahilir.              Dalam kehidupan sehari-hari, untuk menghindari kontak langsung antara mertua dengan menantu yang berbeda jenis kelamin, biasanya aktivitas dilakukan melalui perantara. Atau kalau terpaksa terutama ketika tidak ada perantara, misalnya untuk melayani makan minum maka biasanya anak mantu menyimpannya di tempat yang bisa d...

UPACARA KEMATIAN MARAPU

Gambar
                  Di Pulau Sumba, dalam upacara kematian masih syarat dengan kepercayaan kepada roh nenek moyang atau lebih dikenal dengan "marapu". Upacara kematian marapu dapat memakan biaya yang sangat mahal karena dibutuhkan banyak ternak untuk disembelih selama prosesi berlangsung seperti kuda, kerbau, dan babi. Bahkan upacara kematian ini harus ditunda bertahun-tahun lamanya dengan maksud agar keluarga mampu menyiapkan biaya untuk melangsungkan prosesi tersebut dan juga untuk mengumpulkan semua keluarga dari tempat jauh untuk menghadiri prosesi upacara kematian tersebut.                    Tidak heran jika mayat orang yang meninggal ditaruh dalam peti  atau dikenal dengan kabbang  dan disemayamkan selama bertahun-tahun sampai tiba saatnya keluarga siap melaksanakan prosesi upacara kematian.                       Pada hari p...

TRADISI MAKAN SIRIH PINANG

Gambar
                     Tradisi ini dilakukan dengan cara mengunyah buah pinang, sirih, dan kapur yang akan menyebabkan gigi dan mulut berwarna kemerahan. Jangan heran ketika anda berkunjung atau bertamu ke rumah penduduk orang Sumba, kamu akan disuguhkan sirih pinang yang merupakan simbol penghormatan dan keakraban.              Kemudian orang yang disuguhkan sirih pinang tersebut harus menerima suguhan itu, walaupun nanti diberikan kepada orang lain, dibawa pulang atau ditinggalkan pada tuan rumah atau untuk menghargai tuan rumah bisa juga dimakan tanpa kapur supaya mulut tidak berwarna kemerahan.                    Selain itu, sirih pinang juga menjadi lambang komunikasi dengan arwah leluhur yang sudah meninggal serta sering disuguhkan dalam beberapa acara penting, seperti adat perkawinan dan kematian. Makanya tidak jarang ketika berkunjung ke Pulau...

TRADISI CIUM HIDUNG

Gambar
              Tradisi cium hidung bagi Orang Sumba merupakan simbol kekeluargaan dan persahabatan yang sangat dekat. Selain itu, jika ada pihak yang berseteru dan ingin berdamai, maka akan dilakukan cium hidung yang merupakan simbol perdamaian. Tradisi cium hidung dilakukan dengan cara menempelkan dua hidung yang mengisyaratkan bahwa dua individu seakan sangat dekat dan tidak ada jarak.                 Walaupun tradisi cium hidung ini sudah menjadi adat istiadat dan kebiasaan bagi Orang Sumba, namun tradisi ini tidak dapat dilakukan pada sembarang tempat dan waktu. Tradisi ini dapat dilakukan hanya dalam acara-acara tertentu, seperti saat proses pelaksanaan tradisi perkawinan, pesta pernikahan, ulang tahun, hari raya besar keagamaan, pesta adat, kedukaan dan acara perdamaian.            Di samping itu juga saat penerimaan tamu-tamu yang dianggap terhormat atau agung yang berasal dari...